Lagi Menerka-nerka Seperti Apa Wajah Masa Depan

spOHjjjozz

6 tahun yang lalu aku adalah anak mama yang impiannya melampaui semesta. Yaa begitulah kira-kira.

Di bangku SMA aku bercita-cita untuk lanjut belajar di perguruan tinggi negeri, dengan tekat dan kesungguhan aku bisa menggapainya. Aku lulus dijalur Snmptn, jalur seleksi terpanas dimasa itu. Hanya aku dan sahabatku Dewi yang lulus dari semua teman-temanku. Aku lulus dijurusan perikanan dan temanku Dewi dijurusan bahasa inggris. Dan waktu itu aku juga lulus di poltekes negeri, tapi karna kurang minat di bidang kesehatan aku memilih di perguruan tinggi negeri. Fyi, Aku dan sahabtku memiliki mimpi yang sama, dan sama-sama pernah berkompetisi dari waktu olimpiade sekolah dasar.

Singkat cerita, disemester dua aku ingin keluar dari universitas tersebut, karena mulai merasa tidak sejalan antara minat dengan jurusan yang sedang aku tekuni. Bisa dibilang salah jurusan, dikarenakan tidak selektif waktu awal pendaftaran. Aku enggak selesain semester dua karena sibuk mendaftar lagi di tahun berikutnya, ternyata keberuntunganku hanya ditahun pertama. Akhirnya keluargaku memaksaku kembali meneruskan belajar di jurusan tersebut. Dengan segala kekacauan yang mulai terjadi karena aku harus mengulang semester dua lagi, mulai dari seringnya perubahan kurikulum yang membuat matakuliah jadi teracak-acak, etc.

Sampai akhirnya aku tidak bisa selesai tepat waktu, yaaa hampir terancam DO wkwk. Karena semangat belajar enggak ada sama sekali, aku seperti menyerah pada semua mimpi-mimpiku dulu. Aku mulai tertinggal dari sahabatku Dewi. Saat aku lagi memeperjuangkan tugas akhir, dia sudah mulai bekerja dan mempersiapkan mimpinya s2 keluar negeri. Aku, aku menyerah wi. Itu yg aku katakan padanya waktu itu. Aku tidak mempersiapkan apapun, tidak kursus bahasa asing lagi, tidak mempersiapkan toefl, semua yang menyangkut mimpi kami aku menyerah. Saat itu aku hanya berfikir untuk segera lulus dan tidak mempermalukan orangtua.

Seperti matahari yang menyelinap di kolong langit yang mendung, aku kembali bersemangat dan ingin menuai mimpi-mimpi itu lagi. Hal ini bermula ketika aku harus ikut ujian akhir (sidang skripsi), aku mendapat apresiasi dari salah satu dosenku yang dulu pernah menyepelekanku dan waktu itu aku terima semua perlakuannya, yaa karna aku memang pantas menirimanya.

Beliau mulai melihat sisi lain diriku saat aku harus ikut kelas toefl sebagai syarat lulus tugas akhir dengan beliau sebagai dosen pengajar, karena aku sangat tertarik dari dahulu kala dengan bahasa asing salah satunya bahasa inggris, aku jadi salah satu mahasiswa yang paling aktif dikelas tersebut sampai masa belajar toefl berakhir. Aku tidak menyangka beliau memperhatikan hal tersebut. Saat tiba waktu sidang aku di haruskan tanya jawab dalam bahasa inggris oleh para penguji. Berkat bocoran beliau kedosen penguji lain tersebut aku jadi dapat nilai bagus, dan para dosen menyemangatiku untuk melanjutkan study keluar negeri.

Tapi aku tidak punya bekal apa-apa, aku tidak mempersiapkan apa-apa. Aku sempat menyesal karena semester dua dulu aku terlalu mengikuti egoku dan mencoba merubah takdir yang tidak mungkin bisa diubah. Saat aku berpikir itu jurusan terburuk ternyata Tuhan mencoba menjawab mimpiku melalui jurusan tersebut. Dan diusia sekarang aku masih menerka-nerka seperti apa wajah masa depan.

Terkadang kita memang harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan-kemungkinan terburuk. Karena, rencana-rencana indah akan selalu kalah dengan apa yang Tuhan rasa yang terbaik.

Buat kalian yang merasa salah jurusan, coba jalanin dengan semangat dan pantang menyerah. Terkadang itu jalan terbaik yang Tuhan kasih untuk kita agar lebih mudah ditahapan kehidupan selanjutnya.

Dan untukku, semoga lebih pandai mengambil ibrah dari semua hal yang terjadi dalam hidup dan lebih bertanggung jawab atas keputusan yang telah aku ambil.

Sekian ceritaku, semoga ada buah yang bisa dipetik.

Sibandel Yang Ngangenin

Yusuf, ali, alvian, boni, aulia.

Tiba-tiba mimpiin yusuf ­čÖé
Langsung bangun buka laptop dan liatin foto kenangan dulu di Kuala, Aceh Timur waktu KKN.

Ya Allah… jagalah mereka semua untukku. Tumbuhkanlah rasa rindu dihati mereka kepadaku.

Alasan kenapa aku nempellll banget sama yusuf, ali, alfian, boni. Karena mereka paling bandel diantara anak-anak kebanyakan. Saat teman-teman ku enggak suka mereka, malah aku mencoba menangin hati mereka. Dan nggak susah dapetnya.

Mereka jadi sangat setia sama aku. Paling sayang sama aku. Paling nurut juga. Dari bandelnya yang suka bikin ulah, jadi suka menolong, kalo ada aku hehe…

Nah kalau Aulia, dia perempuan. Mamak sama adeknya juga dekat banget sama aku. Masih nelfon nanyain kabar.

I miss you anak-anak

Kedai Kopi Andalan

IMG_20170227_170114

“Beberapa rindu memang di ciptakan agar lihai menyelinap diantara lirik lagu, aroma parfum, dan tempat-tempat favorit” – Cameo.

Di sini tempat favorit. Tempat menghabiskan sisa waktu yang tidak terpakai untuk dunia dan akhirat. Tempat yang tidak akan pernah keluar kata tidak saat diajak bersantai disini. Bukan rindu yang memanggil saya ke tempat usang ini. Tidak ada lirik lagu dan petikan gitar yang pernah dinyanyikan di sini. Tidak tercium aroma parfum yang pernah terhirup di tempat itu (bukan di sini) yang memang masih membekas di otak. Asap rokok mungkin yang beraroma khas di sini, yang akan ku bawa pulang kerumah nantinya walaupun saya tidak menghisap satu batangpun.

Di tempat biasa, dipojokan. Dengan secangkir cappucino dan lelaki berkacamata. Menghabiskan waktu berjamjam di tempat ini tidak pernah membuat pantat ini jenuh. Saya juga heran, kenapa bisa selalu sebetah ini di sini. Tidak ada yang spesial, biasa-biasa saja. Pengunjung yang sama setiap harinya, dan Pelayan yang sama yang tidak perlu membawa buku menu untuk bertanya apa yang ingin kami pesan.

“Cappucino panas dan kopi hitam”. Katanya tanpa tanda tanya yang melayang di mulutnya lalu tersenyum. Sepertinya dia bisa membaca pikiran saya, atau karena sejak pertama berkunjung kesini kami selalu memesan itu ? ┬áSaya jadi tidak tega mengganti es teh saat lagi kepanasan, tidak ingin meleburkan senyuman pelayan yang merasa sangat akrab dengan saya. Mungkin karna tidak tegaan juga, cappucino jadi bertahan sebagai minuman favorit di tempat ini. Dan mungkin cuman kopi jenis itu yang tidak membuat saya gila (harus bolak-balik kamar mandi) setelah meminumnya.

Kaos hitam, celana cargo selutut. Itu yang menarik hari ini. Entah baru kali ini makhluk itu kemari, atau baru menarik perhatian saya yang lagi mencari cara membangun cerita ini sekarang ? . Tak akan tergoda dan tidak ingin menggoda. Tetaplah disitu, besok dan besoknya lagi. Sampai kau kujadikan buku yang di baca orang.

Terlalu banyak cerita di tempat ini. Tempat bersantai sanak saudara. Paman Abdillah dan istrinya, anak-anaknya, sepupu saya dan kawan-kawannya, kawannya paman, dan paman saya yang berkacamata yang siap sedia diajak kesini. Dan tak jarang saya bertemu teman-teman saya disini.

Pemilik Foto copy yang siap mengejek saat kami berkumpul semua (big family) pada hari yang sama. Dan bapak penjual martabak yang selalu menanyakan kabar saat saya tidak pernah nampak selama seminggu dan yang heboh saat sebulan keluar praktek. Mereka kali ya yang membuat rindu.

Tidak tau mau menceritakan apa lagi. Dari tadi kesusahan membangun cerita. Belum juga menemukan apa yang bagus untuk di tulis. Payah memang mencari cara pengucapan yang menarik. Sampai-sampai sudah mau pulang dari tempat ini. ah sudahlah. Besok mencoba lagi.

Usia ke 9, hampir runtuh

20190508_144604

Tujuan lain mudik selain buat bantu mama ngiket lontong untuk lebaran adalah ingin berjumpa dan bersenda dengan sahabat tercinta DNERA.

Sempatin juga atur waktu buka puasa bersama mereka setiap tahun, ya walaupun nggak pernah ada enaknya makan selain masakan mama dirumah. Konon katanya akan terasa enak dan nikmat jika bersama sahabat.

Tidak berjumpa semenjak duduk di bangku kuliah rindu jadi menumpuk. Ingin berjumpa dan meluahkan semua. Cerita baru, tentang teman baru yang enggak pernah menggantikan posisi kami masing-masing. Banyak hal yang bisa diceritakan kalau udah bersua, enggak pernah ada rahasia. Dan mungkin akan ada sedikit kecanggungan awalnya yang akan cair seiring waktu.

Mempertahankan persahabatan selama 9 tahun bukan hal yang mudah. Sesekali akan ada lalat hinggap di tutup saji. Pacaran aja aku belum pernah bertahan lebih dari 3 bulan. But, ini persahabatan kok langgeng bener. Jumpanya setahun sekali, ortunya sahabat udah kayak ortu sendiri, yaa walaupun nggak pernah dikirimin jajan sih haha.

Semenjak beranjak 20an, kita belum pernah ngalamin hal bodoh dan konyol ngadapin masalah seperti waktu sekolah menengah dulu. Nyadar sih karena nggak jumpa tiap hari jadi nggak ada kebosanan dan alasan berargumen. Sudah cukup dewasa, hingga udah siap dinikahkan satu persatu. But we are still single. Huhu

Seperti kata orang-orang sih, sahabatan berlima atau ganjil itu bakalan langgeng. Bisa nggak ya langgeng sampai kakek nenek, sampai lupa pernah berteman ?

Ekspektasinya sih pengen hamil barengan nanti kalo udah nikah, biar persahabatannya bisa diwariskan ke anak-anak. Hahaa.

Aku dan “E” yang sering buat onar dalam genk, suka rusuh dan paling suka ngajakin mereka seru-seruan. Karena dari kami berlima cuman kami berdua yang aneh, tiga lagi kalem-kalem wae. Yaaa anggap aja kami bon cabe yang jadi penyedap mie bakso kantin pak rustam.

Kali ini aku buat ulah, aku hampir meruntuhkan kekokohan persahabatan ini. Bermula saat acara buka puasa bersama DNERA di hari terakhir puasa, menurutku “D” mementingkan suatu hal (keluarga) yang lebih dia pilih daripada ikut buka puasa bersama kami sebagai sahabatnya, dan aku emosi dengan dia melakukan hal itu, karna kita hanya bertemu setahun sekali. Aku egois waktu itu karena lagi moonday (datang bulan), dan ternyata aku udah membuat dia enggak nyaman dan tersinggung dengan sikapku. Dia terpaksa datang dan ninggalin keluarganya, dan suasananya bener-bener nggak nyaman.

Aku mulai merasa bersalah dan nggak tau harus gimana. Sampai 2 hari aku dan D nggak ngomong. Dia nggak balas chat aku, ucapan mohon maaf lahir batin juga diread doang. I’m so sad. I know it’s my fault.

Di hari lebaran dia enggak ikut ngumpul di rumah R. Kami berempat membahas masalah ini, dan akhirnya aku memutuskan untuk minta maaf langsung sama D. Malam lebaran ketiga aku and the genk silaturrahmi kerumah doi. Disitu mula-mula canggung, aku enggak berani bilang maaf, dia masih cuekin aku. Datar gitu… aku enggak mau diginiin. Huhuu. Mungkin dia lagi mengerjaiku, pikirku.

Waktu sudah mulai pukul 10 malam, kami pun pamit. Dan disitu D mulai hangat lagi, bahagianya. Kamipun berbalas senyum peluk lagi. Aaaaa ku terharu. Aku janji enggak akan ego lagi yaaa.

Makasih masih mau bertahan selama 9 tahun, semoga tetap bertahan sampai selama-lamanya.

Mencarimu Sepagi Ini

20190508_152531

Mobil penyiram taman kota tiba-tiba berhenti di depan ruko tempatku berteduh, pekerjaannya telah di renggut hujan ku rasa. Hujan juga menghalangiku yang sedang mencarimu.

Lihat, tidak indah pemandangan di depanku. Saat langit bersedih, bapak tua yang hendak ke pajak ikan mengambil dagangannya harus ikut berteduh denganku. Memandang hujan, tangan berlipat dada. Apa yang ada dipkirannya selain mengharap kesedihan ini lekas pergi. Tidak melulu hujan membawa berkah di bulan juni. Walaupun sesekali dia menjamu pagi, tetap aja ada yang tidak senang dengannya pagi ini.

Aku tidak mengerti dengan bapak penjual koran yang tidak menggubris hujan. Demi sesuap nasi untuk berbuka nanti kah? Atau anaknya dirumah yang menantinya pulang membawa baju koko untuk lebaran ?. Semangatnya tidak juga membuatku bangkit dari bangku kayu ini untuk mencarimu, lebih tepatnya mencari kebohonganmu. Mencari yang bukan sebenarnya kamu.

Aku ingin kau datang menyelamatkanku, sekarang. Bawakan aku payung atau mantel hujan yang tersangkut di belakang pintu dapurmu itu. Dan mungkin lengan hangatmu. Apa aku benar-benar mengharapkan itu ?? Yang aku inginkan, kau datang dengan jiwa tanpa keangkuhan dan munafik itu. Selamatkan aku dari kebencian yang kian tumbuh kepadamu. Tapi kau tak akan datang, bukan ?

Hujan pagi di bulan juni, menemani sendiriku di bangku kayu tua. Bercerita tentangmu padanya, seperti yang ku ceritakan malam tadi pada diary. Dia juga menyuruhku melupakanmu. Aku tak akan mencari lagi. Tak akan menunggu lagi. Aku tenang disini, tersenyum melepas bebas bayangmu yang berkelebat di otakku selama ini. Hujan di pagi bulan juni, cukup sekali, jangan datang lagi. Aku tak ingin mengingatnya lagi.

Wedang Jahe

(Courtesy of parents.com)

Delete !

Delete !

Delete !

Enggak ada habisnya status alay yang harus aku singkirkan dari facebook pagi ini. Pagi-pagi stay di kedai kopi numpang wifi dengan tujuan untuk menyingkirkan postingan/status yang sudah menjadi hama penyakit yang membuat aku stress berkepanjangan. Ya sepanjang malam.

Rasa mual tiba-tiba muncul tadi malam saat tak sengaja membuka akun medsos yang sudah jarang aku kunjungi ini. Status alay beberapa tahun silam saat masih di bangku SMA membuat tenggorokan ingin mendehem berkali-kali. Sungguh memalukan flashback ke masa lalu, saat masih labil-labilnya.

Ooohhh aku berharap ada aplikasi penghapus status facebook otomatis, sekarang !!

Aku menceritakan kepada pamanku betapa labilnya aku dulu, “Lihat, memalukan bukan ?” aku menyodorkan laptop ke arahnya.

“Tht’s not a problem. Itu dapat menunjukkan perubahan yang sudah kamu dapat sekarang. Tidak perlu di hapus, sesekali bernostalgia di status alay kan menyenangkan.” sambil menyisap mallboro.

Apa yang dia bicarakan ? aku rasa itu bukan perubahan. Tapi fase-fase berbeda yang muncul pada setiap jenjang usia.

Harusnya aku lebih bisa menahan diri saat masih labil dulu. Tidak pamer perasaan, tidak berkomentar alay, dan yang paling parah penulisannya, oohhhh.. aku tak sanggup melihatnya. Seperti penulisan “akku” kenapa harus doble k coba, siapa dulu yang mengajari aku menulis dengan huruf yang di doble-doble kan ? huruf kapital dan kecil yang di gabungkan dalam satu kata. Siapa yang membawa ajaran sesat ini dulu, sih ?

Apakah yang dilakukan sekarang juga akan di sesali 5 tahun yang akan datang ? bagaimana dengan tulisan ini ? bagaimana dengan tweet dan retweet twitter yang aku lakukan tiap hari yang mewakili mood ku, apa akan membuat aku dongkol dan berpikir betapa tidak dewasanya aku ?

Siapapun dan dimanapun pasti mengatakan diam lebih baik dari banyak omong. Atau “berpikir dulu sebelum bicara”, dan lebih tepatnya dapat membedakan yang penting dan tidak penting akan membuatmu sedikit lebih selamat di masa yang akan datang.

“Wedang jahe nya satu lagi bang”.

Aku butuh penyegar perut lebih banyak, menyemangati tubuh menyingkirkan status alay dan menulis sedikit untuk di baca lagi lima tahun yang akan datang, semoga tidak akan memalukan.

Burung dan Tetangga

20190428_172648.jpg

Ini minggu terberat bagi penghuni kota ku. Listrik padam dua kali sehari, gadget tidak berfungsi, apalagi AC dan kipas angin. Matahari yang kian sore bertambah nyentrik, sampai-sampai burung terbang sempoyongan dan menabrak dahan pohon depan rumah. Aku terbahak melihatnya saat mengintip matahari di balik jendela. Di dalam rumah mulai terasa seperti telur yang lagi direbus di atas kompor.
Rindangnya pohon mangga menarik kami untuk segera bersantai di teras rumah. Sebenarnya burung tadi lebih memikatku untuk keluar. Kak Amira yang lagi hamil anak pertamanya membuka pembicaraan. Dia semakin cerewet semenjak mengandung calon debay yang nantinya bakalan nemanin aku bersantai di teras ini. Dia komplain tentang obat yang harus dia minum sore ini.

“Pil nya sebesar biji salak. nih abi aja yang minum.” Dia nyodorin pil ke suaminya sambil manyunin bibir.

Aku jadi berhenti mengupas salak yang di bawa keluar sama suaminya. Dia mengaitkan biji salak yang nantinya akan ada di tanganku dipenghujung salak yang akan aku makan dengan obat yang ada di telapak tangannya. Tidak ada hubungannya obat dengan biji salak dan salak yang sedang aku kupas. Kenapa harus disamakan ?

“Lihat, bibit cabe abi tanam enggak ada perkembangan udah lewat sebulan. Di pot umi hampir berbuah”. Dia membandingkan tanaman cabai di tanah sama yang di dalam pot. Dia mencoba menggoda suaminya yang hendak tidur pulas di lantai.

“Burung aja sempoyongan tu di pohon mangga, apalagi cabe, wafat esok hari. Panas kak.” Aku mencoba membela burung di pohon, bukan tanaman cabai.

Karena memang tidak cocok cabai di tanam di bawah pohon mangga yang rindang, daunnya tidak bisa mencuri sinar matahri untuk berfotosintesis. Atau mungkin tekstur tanahnya yang tidak cocok. Aku jadi ragu antara keduanya, tadi aku bilang karna panas terik penyebabnya. Kok jadi aku yang kerepotan gara-gara cabai, suaminya aja santai-santai saja.

Banyak tanaman di depan rumah. Ada pohon mangga tepat di dekat gerbang, pohon nangka di sebelah kanannya dan juga anakan belimbing dan melinjo yang akan menyandang gelar pohon sebentar lagi, karna dia semakin membesar. Di bawah pepohonan rindang tersebut kak Amira dan suaminya menanam jeruk purut, dan lengkuas. Di bawah jendela berderet beberapa vas berisi tanaman cabai dan kemangi.

Hari ini hobi mereka menuai berkah. Bikin adem ayem penghuni rumah. Biasanya mereka membuat aku geram. Saat si mangga menggugurkan dedaunannya. Sepertinya dia sengaja menjatuhkan daun-daun, agar setiap hari aku berada disitu membersihkannya.

“Sebentar lagi duriannya berbuah, kamu enggak dapat bagian. Malas bersihin rumah sih”. Dia menunjukkan pohon durian kecil yang baru tumbuh di sela-sela pepohonan. Aku tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya.

“Itu durian hidup segan mati tak mau”. Suaminya akhirnya ikut bersuara dan tertawa. Mulai terganggu tidurnya kurasa.

Aku masih terpesona sama burung kecil itu. Sekarang sekawanan teman-temannya ikut berteduh di situ. Dan berkicau tiada hentinya.

“Kak, baru nyadar. Di tengah kota masih ada kicauan burung ternyata ya. Di depan rumah kita lagi. Keren”. Aku terkagum-kagum.

“Apa yang nggak ada disini. Semua ada. Tu di depan sana ada buaya, biawak, dan ular juga ada kalo kepingin liat”. Dia benar-benar menambah-nambahkan penghuni di tanah kosong yang hendak dibangun rumah yang berada di seberang jalan tepat didepan rumah kami.

“Udah kayak tinggal di kebun binatang dong”. Sahutku. Dia tertawa lagi.

Kami terus mengoceh tidak jelas. Menyalahkan tanaman yang tumbuh liar, burung yang berkali-kali hampir jatuh dari dahan pohon, anak kecil yang bersepeda ria di panas terik. Aku jadi penasaran sama tetangga yang sedang bersantai di teras atas rumahnya. Apa yang mereka perbincangkan ? Apa setidak berkualitasnya perbincangan kami ? Namun menyenangkan.

Aku yang biasanya dikekang gadget di kamar sampai malas makan, dan kakak ku yang sibuk sama suaminya. Hari ini terasa menyenangkan. Mungkin aku harus berterimakasih sama matahari atau sama listrik yang padam ? Aaahh Tuhan memang baik. Memberi waktu berbincang dengan mereka tanpa menengok handphone pintar.

Semua gara-gara skripsi

IMG_tzu8xz

Semenjak menjabat sebagai mahasiswa semester akhir, sahabat kecil yang tinggal seatap sekamar tapi beda bantal kini jadi tidak saling mengenal. Memang TA sialan, semakin membuat persahabatan aku dan oding (nama panggilan sahabat ku) jadi absurd. Kata kemal sih gitu, absurd. Dan aku enggak tau menempatkan kata absurd dimana. Gimana enggak absurd, aku yang udah suka ngomong sama “kue” dan oding selalu curhat sama mickoo (boneka kecil berparas monyet), semua gara-gara tugas akhir.

Oding dan aku tidak pernah bertengkar dan sekarang kami juga tidak sedang bertengkar. Tapi kok jadi tidak saling mengenal ya ? ┬áDan masih saling menyemangati. Lah kok saling menyemangati ? Katanya tidak saling mengenal lagi. Kacau… semua karna tugas akhiiiiiiiiiiirrr. Jadi enggak bisa di ganggu, oding mulai ganas.┬áJangan mempersulitlah, berbaiklah padaku keadaan. Sedih tau.

20160330_175930
Ini kue ku

Akhir-akhir ini, aku sering ke atap rumah sama kue. Curhat bareng, selfie dan juga nangis-nangis disana. Kue akan tingal di atap selama sebulan ini. Dia tidak boleh tidur di jendela kamar lagi. Dia harus bermigrasi untuk sementara waktu, demi keselamatan hidupnya. “Tenang kue, aku akan selalu menjengukmu.”

“Kue enggak usah kuliah ya. Nantik kue kayak oding, enggak open nanda gara-gara skripsi.”

##

Nanda : saat mulai bertatap muka dengan TA jadi pengen surfing tiap hari tapi enggak sempat-sempat. Pengen banyak yang hibur tapi pada sibuk semua. Alih-alih biar enggak stress, eh malah stress jugak.

Oding: aaaaaaaaaaaaaaaaaaa kayak lagi PMS.

Wisuda. cepat wisudaa

 

Mr. X

xTixSdjo7B

Saat seseorang sudah memegang kendali mood mu, maka bersiap-siaplah kamu akan jatuh sakit walau sehari tanpanya.

Aku cukup kuat, bisa bertahan dua hari baru jatuh sakit. Meriang, kepala seakan berisi bahan peledak yang lagi dirakit dan sebentar lagi siap diledakkan.

Tidak tau siapa yang harus diajak berdamai. Hati kah ? Logika kah ? Atau tubuh ini yang udah nyerah mengandung jiwa yang selalu merindukan seseorang yang tidak pernah bisa diajak kompromi itu.

Tiga hari yang lalu dia tiba-tiba hilang tanpa kabar. Padahal lagi manis-manisnya kami mengukir hari. Aku hanya menunggu. Kemudian dia hadir lagi dengan pesona yang akan terus mengikatku. Seolah dia hanya milikku.

Separah itu kah aku mencintainya ? Dia tak tau, aku semenderita itu. Dan jadi sebodoh itu menyuka.

Aku dan Aku

14.09.15

Aku rindu padanya seperti bumi Rindukan langit.

Dalam gelap malam bumi tdk bisa memandangmu langit.
Dihalang bintang yang menjadi jubahmu yang gemerlap.
Bahkan terkadang gelap gulita tanpa rembulan.

panggilkan matahari,
agar cepat bertemu terang.
Buat bumi tersenyum.

Berharap langit dan bumi dipertemukan.
Berharap kita dipersatukan.
Ini semua mustahil bukan ?

Kenapa kau harus seperti langit ?jarak bumi ke langit begitu jauh.
Bumi hanya sehalus debu kala kau pandang, langit.
mungkin tak akan sudi kau lirik.

Begitupun aku.
Aku gadis biasa tanpa apa apa.
Berparas biasa dan tak berharta.
Hanya bermodal ilmu dan iman yang tak seberapa.
Sedangkan kau begitu banyak ilmunya.
Begitu taat pada-Nya
Dan kau punya yang tidak aku punya.
Walaupun semua itu milik-Nya

Maafkan aku
Sudah lancang mencuri namamu
Dan kubawa pada-Nya kala berjumpa dengan-Nya

Aku ingin kita sedekat hati dengan tulang rusuk.
Berharap aku adalah tulang rusuk yang pernah dekat dengan hatimu.
Yang pernah merasakan detak jantungmu.
Aku ingin itu.

Biarkan saja aku egois
Terus menerus memintamu kepada-Nya agar dipersatukan

Aku Serahkan semua pada-Nya

#belajarnulis